Bangsa Dan Negara

Rabu, 19 Oktober 2011


Ini dia tugas yang Saya kerjakan sampai harus terjatuh dari motor cuman disuruh meringkas dari buku Ramlan Surbakti “Memahami Ilmu Politik” bab 3 Bangsa Dan Negara
Bangsa Dan Negara
            Pengelompokan Manusia berdasar Kepada jenis Kelamin dikenal dengan Pria dan wanita, dari adat istiadat berdasar kepada bahasa suku bangsa dikenal dengan contoh Mandar, jawa, Arab, dan Rusia dan lain lain. Berdasar ciri fisik Mongoloid, Eropa, Melayu, dan Melanesia. Menurut Iman, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Sinto. Seluruh kategori diatas dipelajari berdasarkan Bangsa dan Negara.
            Ada dua konsep apabila permasalahan bangsa dan negara dibahas, masalah suku bangsa dan negara. Pusat ilmu politik ada pada bangsa dan negara. Suatu suku bangsa dapat memiliki lebih dari satu negara contoh bangsa arab. Suatu ras terdiri atas lebih dari satu negara bukan lagi menjadi suatu persoalan contoh Amerika dan indonesia.
            Negara tidak dilihat dari kesamaan kultural dan biologis melainkan Negara digambarkan adanya satu struktur kekuasaan monopoli dan penggunaan fisik terhadap batas batas wilayah yang jelas. Jadi negara berdasarkan atas persamaan struktur kekuasaan yg memerintahnya.

Proses Pembentuk Bangsa-Negara
            Proses pembentukan suatu negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan ras akan membentuk suatu bangsa baru dengan maksud atau tujuan agar dapat bertahan lama, terbentuknya suatu negara terpusat akan membentuk nasionalitas yang menjadi proses terbentuknya suatu bangsa. Pengertian satu bangsa berbeda dengan Bangsa-Negara, Ben Anderson merumuskan pengertian bangsa yang unik, menurutnya bangsa merupakan komunitas politik yang dibayangkan (imaginated political community) dalam wilayah yang jelas batasnya dan berdaulat. Yang menjadi dasarnya berkata seperti itu adalah karena bangsa yang kecil sekalipun anggotanya tidak mengenal satu sama lain, dibayangkan secara terbatas karena bangsa yang besar mempunyai wilayah yang relatif jelas, memang banyak kesenjangan dari bangsa yang menurutnya dibayankan ini tapi, para anggota bangsa itu selalu memandang satu sama lin sebagai saudara sebangsa dan setanah air sehingga rela mati karenanya.
            Secara umum dikenal ada dua model proses pembentukan negara negara pertama Ortodoks yang bermuka dari adanya suatu bangsa terlebih dahulu untuk kemudian bangsa itu membentuk suatau negara sendiri. Setelah terbentuk kemudian suatu rezim politik dirumuskan dan ditetapkan, dan sesuai dengan pilihan rezim itu, kedua model muktakhir yang berawal adanya suatu negara , yang terbentuk melalui proses tersendiri yang penduduknya terdiri atas berbagai kelompok suku bangsa dan ras.
            Kesadaran politik mulai muncul dikalangan kelompok suku bangsa utnuk berprastisipasi dalam proses yang akan membawa mereka pada pertanyaan yang lebih mendasar. Pertanyaan ini berkaitan dengan pilihan rezim politik. Suatu bangsa akan terbentuk apabila masalah masalah politik disepakati jawabannya. Proses politisasi yang dilakukan secara memadai, memungkinkan akan terdapatnya satu atau lebih kelompok atau suku bangsa  yang tidak bersedia ikut serta dalam bangsa yan dibangun bisa saja disebabkan oleh ketidak setujuan mereka terhadap pilihan bentuk partisasi rezim politik. Hal inilah juga yang menyebabkan beberapa suku bangsa menginginka adanya kompromi atau daerah istimewa dengan aturan khusus. Kedua model tadi berbeda  dalam empat hal berikut. Pertama ada tidaknya perubahan unsur dalam pengelompokan masyarakat, kedua lamanya waktu yang diperlukan dalam proses pembentukan Bangsa-Negara. Ketiga kesadaran politik dalam model ortodoks muncul setelah terbentuknya Bangsa-Negara. Keempat derajat  pentingnya partisisasi politik dan rezim politik dianggap sebagai hal terpisah dari integrasi nasional.
            Model diatas sangat berguna dalam menggambarkan secara sederhana proses pembentukan bangsa-negara yang dalam kenyataan bersifat rumit. Namun mengandung tiga kekurangan pokok. Pertama memandang proses pemebentukan bangsa-negara yang bersifat rumit. Kedua, faktor historis khususnya hal ihwal yang berkaitan dengan pengalaman penjajahan tidak dimasukkan dalam model tersebut. Ketiga, dalam kenyataan tidak hanyadua model pembentukan bangsa-negara.

Faktor Faktor Pembentukan Identitas Bersama
Faktor faktor pembentuk identitas bersama dipengaruhi oleh pembentukan bangsa-negara untuk menyatukan masyarakat ada enam faktor yang pertama secara Primodial. Ikatan kekerabatan kesemaan suku bangsa, daerah, bahasa, adat istiadat adalah faktor faktor primordial yang membentuk suatu negara, hal diatasa juga tidak menjamin terbentuknya suatu bangsa karena kemajemukan suatu negara mempersukar pemebentukan nasionalitas baru. Kedua, Tokoh yang kepemimpinnnya disegani dan dihormati secara luas oleh masyarakat banyak dapat pula menjadi faktor yang berpengaruh, Tokoh yang dapat memeberikan jalan keluar bagis bangsa yang tengah berjuang diri untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah. Pemimpin juga tidak dapat menjami karena kepemimpinan bersifat sementara ada dua penyebab yang pertama adalah karena faktor usia dan yang kedua kepemimpinan berkaitan dengan perkembangan masyarakat,  Masyarakat yang berubah juga juga inigin memiliki  tipe pemimpin yang berubah juga.
            Ketiga faktor pembentukan identitas juga dipengaruhi oleh sejarahnya presepsis yang sama tentang pengalaman masa lalu seperti penderitaan yang disebabkan oleh penjajahan dan tekad dan tujuan yang sama. hal diataslah yang menjadi tekad untuk menjadikan mereka suatu bangsa karena itu dapat membentuk rasa kekitaan.
            Bhineka tunggal ika atau “berbeda tapi tetap satu jua” juga menjadi identitas pembentuk suatu bangsa yang menjadi prinsip pemersatu diantara perbedaan yang ada, juga dapat menumbuhkan kesetiaan ganda walaupun tetap memiliki identitas kelompok yang berbeda satu sama lainnya.
            Kesakralan dalam hal ini kesamaan agama juga menjadi faktor terbentuknya bangsa yang menjadi ideologi droktiner. Agama dan ideologi droktiner tidak semata mata bagaimana eharusnya hidup karena yang menggambarkan hidup seharusnya dengan tujuan suci. Walaupun hal ini tidak menjamin dapat suatu negara dan bangsa tapi hal ini dapat menumbuhkan rasa nasionalis.
            Perkembangan ekonomi hal yang juga dapat menjadi faktor pembentuk suatu bangsa dan negara yang mana hal ini dapat melahirkan pekerjaan yang beraneka ragam yang dapat melahirkan juga rasa saling membutuhkan dalam berbagai jenis pekerjaan, semakin kuat rasa ketergantungan inilah yang dapat membentuk suatu bangsa hal ini disebut sebagai solidaritas ekonomi oleh Durkheim. Yang terkahir adalah kelembagaan, inilah faktor lain yang membentuk bangsa yang berupa lembaga lembaga pemerintahan dan politik, seperti birokrasi, angkatan bersenjata, dan partai politik.

Ideologi Nasional
            Ideoligi merupakan gagasan untuk kebaikan bersama Yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang hendak dicapai dan bagaiman cara mencapainya. Ideologi juga dapat dikatakan sebagai suatu pandangan atau sistem nilai dan mendalam tentang tujuan yang hendak dicapai oleh suatu masyarakat, dan cara cara yang paling baik untuk mencapai tujuan tersebut. Ada dua fungsi ideologi yang pertama, mejadi tujuan atau cita cita dan yang kedua, sebagai alata untuk mempersatukan masyarakat.
            Dalam masyarakat majemuk juga memiliki pandangan atau sistem nilai yang dipegang sebagai landasan untuk memajukan kepentingan yang khas. Sistem nilai juga dapat disebut sebagai sub-ideologi yang dimasyarakat majemuk terdapat banyak subideologi. Ideologi nasional diambil dari nilai yang paling benar, seusuai, baik, adil yang dapat menyatukan berbagai macam kelompok.

Negara: Sistem Dominasi dan Konsensus
            Negara merupakan hubungan sosial yang bersifat dominatif dilihat dari sudut pandang negara dari dan Masyarakat. Hubungan hubungan dominasi yang harus didukung oleh sebuah negara dan harus mengorganisasikannya. Dominasi berasal dari institusi institusi yang biasanya memonoli sarana paksaan secara pisik diwilayah tertentu.
            Negara dipandang memiliki kewenangan yang sah untuk memepertahanakan sistem dominasi sosial. Berdasarakan perspektif itu negara dipandang sebagai suatu hubungan dominasi yang mewakli kepentingan komponen masyarakat yang dominan dalam realistis analitis, negara merupakan aspek politik hubungan sosial yang bersifat dominatif dan dalam wujuda yang kongkret. Menurut  kedua wajah tersebut menyatakan lembga lembaga negara merupakan suatu rasionalitas ang berdiri diatas masyarakt adalah kurang tepat. Fokus pengorganisasian dan pengorganisasian konsensus secara umun yang menjadi fokus suatu negara yang akan menjadi dasar legitimasi. Manakala negara mempunyai “mediasi” negara harus mengkonsensus mengenai kepentinga umum.
Identitas bangsa kolektif yang mendefenisikan “kita” merupakan pengertian bangsa yang mengandung makna solidaritas yag didrikan dari kemajemukan berbagai macam suku bangsanya. Ke-kitaan menjadi simbol yang kuat sebagai yang diwujudkan dari berbagai macam hal contoh ideologi, bendera, dan lagu nasional. Negara mempertahankan kekuasaan bukan hanya dominasi fisik oleh polis, militer, dan birokrasi tetapi juga oleh ideologis melalui media komunikasi massa dan pendidikan dan tekhnologi dan negara mempertahankan kekuasaan tidak hanya dengan paksaan fisik, tetapi juga dengan persuasi dan persetujuan rakyat.

Integrasi Politik
            Integrasi politik tediri dari lima poin yg pertama, Integrasi Bangsa ialah proses penyatuan berbagai kelompok sosial budaya dalam kesatuan wilayah dan dalam suatu identitas nasional. Kedua, Integrasi wilayah merupakan pembentukan kewenanangan nasionla pusat terhadap wilayah atau daerah politik yang lebih kecil, yang terdiri atas satu atau lebih kelompok budaya. Ketiga, Integrasi Nilai ialah persetujuan bersama mengeni tujuan tujuan prinsip dasar politik, dan prosedur penyelesaian konflikdan permasalan bersama lainnya. Keempat, integrasi elit dengan khalayak ialh upaya untuk menghubungkan antara golongan elit yang memerintah dan khalayak atau rakyat yangdiperintah. Kelima, perilaku integratif ialah kesidaan warga masyarakat untuk bekerja sama dalam suatu organisasi besar dan berpelilaku sesuai dengan cara yang dapat membantu pencapaian  tujuan organisasi.
            Selain kesamaan identitas yang biasanya menjadi faktor pembentukan suatu negara dan Bangsa-Negara hal diatas juga menjadi hal hal yang penting dalam proses pembentukan ada satu yang sulit diabaikan dalam pembentukan suatu bangsa dan negara yaitu wilayah yang jelas karena wilayah bukan hnya sebagai tempat bernaung dan berlindung tapi juga merupakan tempat untuk menjadi sumber kehidupan, karena di tempat itu masyarakat hidup dalam berbagai macam usaha seperti bercocok tanam dan lain lain.
            Integrasi politik ialah penyatuan masyarakat dengan sistem politik menurut Weiner. Dia menunjukkan betapa penting integrasi politik oleh suatu bangsa dan integrasi politik telah saya jelaskan sedikit setidaknya ada lima jenis integrasi bangsa yang telah dijelaskan.
             
             

0 komentar:

Posting Komentar

Rabu, 19 Oktober 2011

Bangsa Dan Negara


Ini dia tugas yang Saya kerjakan sampai harus terjatuh dari motor cuman disuruh meringkas dari buku Ramlan Surbakti “Memahami Ilmu Politik” bab 3 Bangsa Dan Negara
Bangsa Dan Negara
            Pengelompokan Manusia berdasar Kepada jenis Kelamin dikenal dengan Pria dan wanita, dari adat istiadat berdasar kepada bahasa suku bangsa dikenal dengan contoh Mandar, jawa, Arab, dan Rusia dan lain lain. Berdasar ciri fisik Mongoloid, Eropa, Melayu, dan Melanesia. Menurut Iman, Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Sinto. Seluruh kategori diatas dipelajari berdasarkan Bangsa dan Negara.
            Ada dua konsep apabila permasalahan bangsa dan negara dibahas, masalah suku bangsa dan negara. Pusat ilmu politik ada pada bangsa dan negara. Suatu suku bangsa dapat memiliki lebih dari satu negara contoh bangsa arab. Suatu ras terdiri atas lebih dari satu negara bukan lagi menjadi suatu persoalan contoh Amerika dan indonesia.
            Negara tidak dilihat dari kesamaan kultural dan biologis melainkan Negara digambarkan adanya satu struktur kekuasaan monopoli dan penggunaan fisik terhadap batas batas wilayah yang jelas. Jadi negara berdasarkan atas persamaan struktur kekuasaan yg memerintahnya.

Proses Pembentuk Bangsa-Negara
            Proses pembentukan suatu negara yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan ras akan membentuk suatu bangsa baru dengan maksud atau tujuan agar dapat bertahan lama, terbentuknya suatu negara terpusat akan membentuk nasionalitas yang menjadi proses terbentuknya suatu bangsa. Pengertian satu bangsa berbeda dengan Bangsa-Negara, Ben Anderson merumuskan pengertian bangsa yang unik, menurutnya bangsa merupakan komunitas politik yang dibayangkan (imaginated political community) dalam wilayah yang jelas batasnya dan berdaulat. Yang menjadi dasarnya berkata seperti itu adalah karena bangsa yang kecil sekalipun anggotanya tidak mengenal satu sama lain, dibayangkan secara terbatas karena bangsa yang besar mempunyai wilayah yang relatif jelas, memang banyak kesenjangan dari bangsa yang menurutnya dibayankan ini tapi, para anggota bangsa itu selalu memandang satu sama lin sebagai saudara sebangsa dan setanah air sehingga rela mati karenanya.
            Secara umum dikenal ada dua model proses pembentukan negara negara pertama Ortodoks yang bermuka dari adanya suatu bangsa terlebih dahulu untuk kemudian bangsa itu membentuk suatau negara sendiri. Setelah terbentuk kemudian suatu rezim politik dirumuskan dan ditetapkan, dan sesuai dengan pilihan rezim itu, kedua model muktakhir yang berawal adanya suatu negara , yang terbentuk melalui proses tersendiri yang penduduknya terdiri atas berbagai kelompok suku bangsa dan ras.
            Kesadaran politik mulai muncul dikalangan kelompok suku bangsa utnuk berprastisipasi dalam proses yang akan membawa mereka pada pertanyaan yang lebih mendasar. Pertanyaan ini berkaitan dengan pilihan rezim politik. Suatu bangsa akan terbentuk apabila masalah masalah politik disepakati jawabannya. Proses politisasi yang dilakukan secara memadai, memungkinkan akan terdapatnya satu atau lebih kelompok atau suku bangsa  yang tidak bersedia ikut serta dalam bangsa yan dibangun bisa saja disebabkan oleh ketidak setujuan mereka terhadap pilihan bentuk partisasi rezim politik. Hal inilah juga yang menyebabkan beberapa suku bangsa menginginka adanya kompromi atau daerah istimewa dengan aturan khusus. Kedua model tadi berbeda  dalam empat hal berikut. Pertama ada tidaknya perubahan unsur dalam pengelompokan masyarakat, kedua lamanya waktu yang diperlukan dalam proses pembentukan Bangsa-Negara. Ketiga kesadaran politik dalam model ortodoks muncul setelah terbentuknya Bangsa-Negara. Keempat derajat  pentingnya partisisasi politik dan rezim politik dianggap sebagai hal terpisah dari integrasi nasional.
            Model diatas sangat berguna dalam menggambarkan secara sederhana proses pembentukan bangsa-negara yang dalam kenyataan bersifat rumit. Namun mengandung tiga kekurangan pokok. Pertama memandang proses pemebentukan bangsa-negara yang bersifat rumit. Kedua, faktor historis khususnya hal ihwal yang berkaitan dengan pengalaman penjajahan tidak dimasukkan dalam model tersebut. Ketiga, dalam kenyataan tidak hanyadua model pembentukan bangsa-negara.

Faktor Faktor Pembentukan Identitas Bersama
Faktor faktor pembentuk identitas bersama dipengaruhi oleh pembentukan bangsa-negara untuk menyatukan masyarakat ada enam faktor yang pertama secara Primodial. Ikatan kekerabatan kesemaan suku bangsa, daerah, bahasa, adat istiadat adalah faktor faktor primordial yang membentuk suatu negara, hal diatasa juga tidak menjamin terbentuknya suatu bangsa karena kemajemukan suatu negara mempersukar pemebentukan nasionalitas baru. Kedua, Tokoh yang kepemimpinnnya disegani dan dihormati secara luas oleh masyarakat banyak dapat pula menjadi faktor yang berpengaruh, Tokoh yang dapat memeberikan jalan keluar bagis bangsa yang tengah berjuang diri untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah. Pemimpin juga tidak dapat menjami karena kepemimpinan bersifat sementara ada dua penyebab yang pertama adalah karena faktor usia dan yang kedua kepemimpinan berkaitan dengan perkembangan masyarakat,  Masyarakat yang berubah juga juga inigin memiliki  tipe pemimpin yang berubah juga.
            Ketiga faktor pembentukan identitas juga dipengaruhi oleh sejarahnya presepsis yang sama tentang pengalaman masa lalu seperti penderitaan yang disebabkan oleh penjajahan dan tekad dan tujuan yang sama. hal diataslah yang menjadi tekad untuk menjadikan mereka suatu bangsa karena itu dapat membentuk rasa kekitaan.
            Bhineka tunggal ika atau “berbeda tapi tetap satu jua” juga menjadi identitas pembentuk suatu bangsa yang menjadi prinsip pemersatu diantara perbedaan yang ada, juga dapat menumbuhkan kesetiaan ganda walaupun tetap memiliki identitas kelompok yang berbeda satu sama lainnya.
            Kesakralan dalam hal ini kesamaan agama juga menjadi faktor terbentuknya bangsa yang menjadi ideologi droktiner. Agama dan ideologi droktiner tidak semata mata bagaimana eharusnya hidup karena yang menggambarkan hidup seharusnya dengan tujuan suci. Walaupun hal ini tidak menjamin dapat suatu negara dan bangsa tapi hal ini dapat menumbuhkan rasa nasionalis.
            Perkembangan ekonomi hal yang juga dapat menjadi faktor pembentuk suatu bangsa dan negara yang mana hal ini dapat melahirkan pekerjaan yang beraneka ragam yang dapat melahirkan juga rasa saling membutuhkan dalam berbagai jenis pekerjaan, semakin kuat rasa ketergantungan inilah yang dapat membentuk suatu bangsa hal ini disebut sebagai solidaritas ekonomi oleh Durkheim. Yang terkahir adalah kelembagaan, inilah faktor lain yang membentuk bangsa yang berupa lembaga lembaga pemerintahan dan politik, seperti birokrasi, angkatan bersenjata, dan partai politik.

Ideologi Nasional
            Ideoligi merupakan gagasan untuk kebaikan bersama Yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang hendak dicapai dan bagaiman cara mencapainya. Ideologi juga dapat dikatakan sebagai suatu pandangan atau sistem nilai dan mendalam tentang tujuan yang hendak dicapai oleh suatu masyarakat, dan cara cara yang paling baik untuk mencapai tujuan tersebut. Ada dua fungsi ideologi yang pertama, mejadi tujuan atau cita cita dan yang kedua, sebagai alata untuk mempersatukan masyarakat.
            Dalam masyarakat majemuk juga memiliki pandangan atau sistem nilai yang dipegang sebagai landasan untuk memajukan kepentingan yang khas. Sistem nilai juga dapat disebut sebagai sub-ideologi yang dimasyarakat majemuk terdapat banyak subideologi. Ideologi nasional diambil dari nilai yang paling benar, seusuai, baik, adil yang dapat menyatukan berbagai macam kelompok.

Negara: Sistem Dominasi dan Konsensus
            Negara merupakan hubungan sosial yang bersifat dominatif dilihat dari sudut pandang negara dari dan Masyarakat. Hubungan hubungan dominasi yang harus didukung oleh sebuah negara dan harus mengorganisasikannya. Dominasi berasal dari institusi institusi yang biasanya memonoli sarana paksaan secara pisik diwilayah tertentu.
            Negara dipandang memiliki kewenangan yang sah untuk memepertahanakan sistem dominasi sosial. Berdasarakan perspektif itu negara dipandang sebagai suatu hubungan dominasi yang mewakli kepentingan komponen masyarakat yang dominan dalam realistis analitis, negara merupakan aspek politik hubungan sosial yang bersifat dominatif dan dalam wujuda yang kongkret. Menurut  kedua wajah tersebut menyatakan lembga lembaga negara merupakan suatu rasionalitas ang berdiri diatas masyarakt adalah kurang tepat. Fokus pengorganisasian dan pengorganisasian konsensus secara umun yang menjadi fokus suatu negara yang akan menjadi dasar legitimasi. Manakala negara mempunyai “mediasi” negara harus mengkonsensus mengenai kepentinga umum.
Identitas bangsa kolektif yang mendefenisikan “kita” merupakan pengertian bangsa yang mengandung makna solidaritas yag didrikan dari kemajemukan berbagai macam suku bangsanya. Ke-kitaan menjadi simbol yang kuat sebagai yang diwujudkan dari berbagai macam hal contoh ideologi, bendera, dan lagu nasional. Negara mempertahankan kekuasaan bukan hanya dominasi fisik oleh polis, militer, dan birokrasi tetapi juga oleh ideologis melalui media komunikasi massa dan pendidikan dan tekhnologi dan negara mempertahankan kekuasaan tidak hanya dengan paksaan fisik, tetapi juga dengan persuasi dan persetujuan rakyat.

Integrasi Politik
            Integrasi politik tediri dari lima poin yg pertama, Integrasi Bangsa ialah proses penyatuan berbagai kelompok sosial budaya dalam kesatuan wilayah dan dalam suatu identitas nasional. Kedua, Integrasi wilayah merupakan pembentukan kewenanangan nasionla pusat terhadap wilayah atau daerah politik yang lebih kecil, yang terdiri atas satu atau lebih kelompok budaya. Ketiga, Integrasi Nilai ialah persetujuan bersama mengeni tujuan tujuan prinsip dasar politik, dan prosedur penyelesaian konflikdan permasalan bersama lainnya. Keempat, integrasi elit dengan khalayak ialh upaya untuk menghubungkan antara golongan elit yang memerintah dan khalayak atau rakyat yangdiperintah. Kelima, perilaku integratif ialah kesidaan warga masyarakat untuk bekerja sama dalam suatu organisasi besar dan berpelilaku sesuai dengan cara yang dapat membantu pencapaian  tujuan organisasi.
            Selain kesamaan identitas yang biasanya menjadi faktor pembentukan suatu negara dan Bangsa-Negara hal diatas juga menjadi hal hal yang penting dalam proses pembentukan ada satu yang sulit diabaikan dalam pembentukan suatu bangsa dan negara yaitu wilayah yang jelas karena wilayah bukan hnya sebagai tempat bernaung dan berlindung tapi juga merupakan tempat untuk menjadi sumber kehidupan, karena di tempat itu masyarakat hidup dalam berbagai macam usaha seperti bercocok tanam dan lain lain.
            Integrasi politik ialah penyatuan masyarakat dengan sistem politik menurut Weiner. Dia menunjukkan betapa penting integrasi politik oleh suatu bangsa dan integrasi politik telah saya jelaskan sedikit setidaknya ada lima jenis integrasi bangsa yang telah dijelaskan.
             
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.